Chong Wei menantikan menteri olahraga baru Malaysia

Pebulu tangkis tunggal putra andalan Malaysia, Lee Chong Wei, sangat menantikan penunjukkan menteri olahraga baru. Pemain 35 tahun ini berharap, menteri baru bisa meneruskan kinerja Khairy Jamaluddin yang dinilai memuaskan.

“Ini bisa menjadi angin segar bagi para atlet dan saya menantikan siapa yang akan menjadi menteri olahraga yang baru,” ujar Chong Wei saat mengunjungi Akademi Badminton Malaysia (ABM), Jumat (11/5/2018), seperti dikutip dari NST.

“Tak diragukan lagi, mantan menteri Khairy Jamaluddin melakukan pekerjaan yang hebat. Di bawah kendali Khairy, atlet yang berprestasi pada Olimpiade Rio 2016 menikmati bonus yang sangat besar.”

Chong Wei mengakui, bonus yang diberikan oleh pemerintah sangat efektif mendorong semangat para atlet untuk berprestasi. Tak heran, Malaysia tampil impresif selama Khairy Jamaluddin menjadi menteri olahraga karena mereka juara umum SEA Games Kuala Lumpur 2017 dan menghasilkan sejumlah juara dunia pada cabang olahraga lain.

“Kami tidak tahu kapan menteri olahraga baru akan ditunjuk, tetapi saya yakin siapa pun orangnya dia juga ingin melakukan pekerjaan hebat,” ujar Chong Wei, yang tiga kali menyabet medali perak Olimpiade.

Terdekat, Chong Wei akan memimpin Malaysia dalam ajang Piala Thomas 2018 yang bergulir di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei. Chong Wei datang ke ABM untuk latihan untuk persiapan menghadapi turnamen beregu putra nan bergengsi itu.

“Saya akan menjadi salah satu pemain tertua di turnamen, sehingga berharap para pemain muda bisa termotivasi. Saya tidak yakin bisa bermain dalam setiap pertandingan grup. Pelatih yang memutuskan.”

“Turnamen ini kesempatan yang bagus bagi pemain seperti Lee Zii Jia, Leong Jun Hao dan Iskandar Zulkarnain Zainuddin untuk membuat terobosan.”

Tim Piala Thomas Malaysia tergabung di Grup D bersama juara bertahan Denmark, Rusia dan Aljazair. Mereka berpotensi lolos ke babak perempat final.

Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia, BAM, memasang target Chong Wei dan kawan-kawan mencapai semifinal. Ini dilakukan setelah melihat kekuatan tim yang dinilai tidak terlalu realistis jika diharapkan menjadi juara seperti yang terjadi pada 1992 di Kuala Lumpur.

Comments